Beberapa waktu yang lalu aku pernah mempertanyakan kehebatan Gajah Mada terkait dengan masalah perang Bubat yang terjadi sekitar tahun 1537 M, yang menjadi titik hitam perjalanan hidupnya. Bagaimana mungkin seorang Gajah Mada menggunakan taktik licik hanya untuk menaklukan sebuah kerajaan kecil di seberang kerajaannya. Namun akhirnya aku menemukan jawabannya. Ternyata Gajah Mada Memang Sehebat Namanya!!
Bukan karena ketidakmampuannya dalam strategi perang hingga kerajaan kecil itu, yaitu kerajaan Sunda (atau ada yang menyebutnya sebagai kerajaan Pajajaran) namun karena suatu alasan yang cukup logis. Novel Hermawan Aksan yang berjudul ”Dyah Pitaloka (Korban Ambisi Politik Gajah Mada)” memberikan jawaban tersebut.
Novel Dyah Pitaloka (Korban Politik Gajah Mada) merupakan sebuah novel sejarah yang bercerita tentang sosok Dyah Pitaloka yang digambarkan sebagai wanita cerdas yang begitu terusik oleh masalah gender. Wanita yang kecantikannya dilukiskan ibarat Ken Dedes dan wanita yang kecerdasannya di ibaratkan seperti TribuanaTunggadewi. Dalam novel ini diceritakan bagaimana kehidupan Dyah Pitaloka dan bagaimana dia dan kerajaannya, kerajaan Sunda, menjadi batu sandungan bagi ambisi Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara dipawah panji kekuasaan Majapahit.
Gajah Mada mampu menaklukkan daerah-daerah di Nusantara bahkan sampai ke Asia Tenggara. Gajah Mada berhasil menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara dan diluar Nusantara yang dibagi menjadi delapan wilayah besar.
Wilayah Pertama adalah Jawa, Madura dan Galiyao.
Wilayah kedua meliputi seluruh Andalas, yakni Lampung, Palembang, Jambi, Karitang, Muara Tebo, Darmasyara, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak Barat, Lawas, Samudra Pasai, Lamuri, Bantam, dan Barus.
Wilayah ketiga yaitu seluruh pulau Tanjungnegara, meliputi Kapuas, Katingin, Sampit, Kutalingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kedangdangan, Landak, Samedang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka Saludung, Solot, Pasir, Barito, Sebuku, Tabalong, Tanjung Kutai, Malanau, dan Tanjungpuri.
Wilayah keempat, seluruh semenanjung Malaka meliputi Pahang, Hujung Medini, Lengkasuka, Saimwang, Kelantan, Trengganu, Nagor, Pakamuar, Dungun, Tumasik, Sang Hyang Hujung, Kelang, Kedah, Jere, Kanjap dan Niran.
Wilayah kelima yaitu seluruh sunda Kecil meliputi Bali, Bedudu, Lwagajah, Gurun, Taliwang, Sapi, Sang Hyang Api, Bima, Seram, Hutan, Kedali, Lombok Mirah, Sasak, Sumba dan Timor.
Wilayah keenam yaitu seluruh Sulawesi meliputi Bantanyan, Luwu, Udamakaraja, Makasar, Buton, Banggai, Kunir, Salaya dan Solor.
Wilayah ketujuh yaitu seluruh Maluku meliputi Muara, Wandan, Ambon dan Ternate.
Dan wilayah kedelapan yaitu seluruh irian bagian barat meliputi Onin di utara dan Seran di selatan.
Selain itu Majapahit juga disegani negara tetangganya seperti Syanka, Darmanegara, Martaban, Kalingga, Singanegari, Campa, Camboja dan Annam. Namun ada sebuah kerajaan yang menjadi kerikil yang tak mampu ditaklukkannya, yaitu kerajaan kecil yang terletak dipulau yang sama dengan kerajaan Majapahit. Kerajaan itu bernama kerajaan Sunda (Pajajaran), tempat Dyah Pitaloka berasal.
Alasan kenapa Gajah Mada tak mampu menaklukan Kerajaan Sunda bukan karena ketidakmampuan strategi perangnya melainkan karena permintaan penguasa Majapahit sendiri yaitu Maharani Tribuanatunggadewi yang berkali-kali meminta agar Gajah Mada tidak mengganggu kerajaan Sunda. Ini dikarenakan terdapat hubungan kekerabatan antara Majapahit dan Sunda. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, memiliki darah Sunda. Inilah alasan mengapa Gajah Mada tak mampu menaklukkan kerajaan sunda.
Gajah Mada pun memikirkan cara selain perang untuk menaklukkan kerajaan kecil itu maka Gajah Mada membuat taktik yaitu pernikahan politik bagi dua kerajaan. Hayam Wuruk, Raja Majapahit, yang diceritakan sebagai raja besar namun tak memiliki permaisuri karena sifat pemilihnya yang tinggi, dijodohkan Gajah Mada dengan Dyah Pitaloka.
Gajah Mada berhasil membuat Hayam Wuruk jatuh cinta pada kecantikan Dyah Pitaloka. Walau banyak putri-putri cantik dari berbagai kerajaan bahkan berbagai negeri yang telah dipilihkan oleh penasehat2nya namun akhirnya Hayam Wuruk jatuh cinta pada putri seberang kerajaannya.
Atas permintaan Hayam Wuruk, raja Lingga Buana mengantarkan putrinya ke Majapahit dan sesampainya di Majapahit Hayam Wuruk akan menjemput sendiri rombongan raja sunda itu. Namun, Gajah Mada yang menganggap Kerajaan Sunda sebagai batu ganjalan atas Sumpah Palapanya memaksakan ambisinya. Dia menjemput sendiri rombongan Kerajaan Sunda dan meminta Raja Lingga Buana untuk menyerahkan Putrinya, Dyah Pitaloka, sebagai upeti sebagai tanda takluk kepada kerajaan Majapahit. Tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan Raja Majapahit. Akibatnya Raja Sunda marah dan Gajah Mada tetap memaksa.
Akhirnya perang tak terelakkan. Seluruh pasukan kerajaan Sunda yang berkisar 90-an orang tewas. Bahkan raja Linggabuana ikut tewas demi mempertahankan harga diri kerajaan Sunda. Dan begitu juga dengan Dyah Pitaloka yang memutuskan untuk menusuk jantungnya sendiri dengan patrem (tusuk konde), memilih untuk mati daripada harus menjadi upeti tanda takluk kepada kerajaan Majapahit.
Tragedi berdarah tersebut tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa perang bubat. Peristiwa yang hampir tak pernah disinggung dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Peristiwa besar yang menjadi titik awal kemunduran Gajah Mada.
Kira2 itulah ringkasan cerita dari novel diatas. Yang membuatku merasa lega adalah ketika ku mendapati alasan mengapa kerajaan Sunda yang begitu kecil tak mampu ditaklukkan oleh Gajah Mada, dari kerajaan besar Majapahit. Alasannya yaitu sebab ternyata kerajaan Majapahit memiliki silsilah keturunan dari raja kerajaan Sunda. Ini yang mengakibatkan Tribuanatunggadewi selalu meminta Gajah Mada agar tidak menyerang kerajaan Sunda. Sebab kerajaan Sunda memiliki ikatan dengan kerajaan Majapahit.
Berikut Silsilah kedua keraan tersebut

Selain itu ada kata2 dalam novel diatas yang membuatku merasa terusik. Yaitu ketika membahas tentang pemikiran gender dari Dyah Pitaloka. ”Namun, dibeberapa kitab, nama sang ratu ini seakan-akan sengaja dihilangkan”, sebait kalimat yang mengusik hatiku. Memang benar banyak kerajaan yang merasa malu mencatatkan nama wanita dalam perjalanan sejarahnya. Ini membuat wanita seakan2 hanya merupakan penghias didunia ini. Padahal banyak wanita2 nusantara yang memiliki kemampuan bahkan di atas kemampuan pria.
Jadi ingat serial korea ”Great Quenn Seon Deok”, ratu pertama korea. Begitu haru menyaksikan perjalanan Deok Man mengangkat masalah gender kedalam ranah pemerintahan. Tapi aku akan menjadi haru lagi andai saja Dyah Pitaloka juga bisa dikenal bangsa ini sebagai seorang wanita yang memikirkan betapa permasalahn gender itu menjadi hal tidak adil jika wanita selalu dianggap sebagai manusia kelas dua.
Begitu juga Ratu Sima, Ratu dari kerajaan Kalingga (Holing). Ratu yang pernah berkuasa dengan segala ketegasannya yang menyerupai raja Hamurabi dari kerajaan Babylonia di daerah Mesopotamia. Kenapa nama ratu Sima hampir tak dikenal oleh generasi bangsa ini? Apa yang dilakukan oleh ratu sima dalam memperjuangkan hak wanita dalam pemerintahan hampir tak sebanding dengan yang dilakukan oleh R.A kartini. Namun tak ada penghargaan akan jasanya yang mencoba menghapuskan permasalahan gender itu oleh bangsa ini.
Bangsa ini masih perlu banyak belajar tentang sejarah bangsanya sendiri. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya???
kembali ke atas
16/01/2011 at 10:45 AM
Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.
Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.
Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.
Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.
Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.
Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.
Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.
Berbeda dengan Negarakertagama dan Prasasti Balawi yg ditulis beberapa tahun setelah wafatnya Dyah Wijaya. (gelar raden pas tahun itu belum ada/belum menjadi sebutan)
20/01/2011 at 5:51 PM
terima kasih atas infonya….sangat bermanfaat buat saya… ^^
20/01/2011 at 6:20 PM
Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara yang menyebut asal-usul R Wijaya dari Sunda ditulis ratusan tahun setelah runtuhnya Majapahit.
Ralat: Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari.
Jadi yg menyebut Wijaya keturunan Sunda adalah naskah Babad Tanah Jawi (abad 18)dan Pustaka Rajyarajya i Bhum Nusantara.
Adapun Negarakertagama ditulis pd waktu Majapahit masih ada 1365-an, Pararaton (selesai awal 1600-an) dan prasasti Balawi pd masa Majapahit.
Penulisan asal-usul Majapahit dari pangeran Sunda ditulis pd masa Mataram Islam untuk menarik hati orang Sunda agar tetap bersatu dalam kerajaan Mataram-Jawa (abad 16-17) karena bila mereka melepaskan diri dan memberontak akan cukup merepotkan.
Demikian analisa saya..
sy asli Jawa-Banyumas
13/04/2013 at 10:34 AM
Mas dildar banyumase dmn,aku rawalo..
12/02/2011 at 1:24 AM
soory brur…kalau gajah mada sehebat itu sampai menguasai Pase, perelak, tamiang yg kemudian dikenal dgn nama Aceh..masa sih engak ada catatan atau satu situs pun yang bikin gue bisa yakin..terus..seorang peneliti sejarah aceh..katanya..gajah mada dipancung kepalanya di hutan manyak Pahit tamiang ketika baru saja memasuki wilayah samudera pase (tamiang waktu itu masuk dalam daerah perwalian pase)..bingung gue jadinya…mana yang benar ya brurr….tulisan ini sulit dipercaya…dalam sarakata kerajaan samudera pase, perelak timu dan lamuri, tidak sekalipun disebutkan cerita tentang pengaruh atau kekuasaan Gajah Mada itu…kalau cerita Gajah Benaran yang ditunggani Iskandar Muda atau Merah Silu (malikul saleh, raja pase), itu banyak ceritanya…columbus juga nulis begitu…so..mohon informasi kawan-kawan ne…biar gue tambah cerdas…..soalnya…di Jawa..legenda (dongeng) jadi diolah jadi sejarah….tapi di Aceh…sejarah malah jadi dongeng…tolong ya gan…kasih tau gue…mana situs atau bukti-bukti akurat tentang kehebatab gajah mada menaklukan Aceh atau pase, tamiang, Lamuri, perelak tau sumatera lah…sebab setau gue…portugis, spanyol..terpaksa cabut dari wilayah-wilayah yang disebut dalam buku ini setelah diserang terus sama pasukan pase, perelak dan lamuri yang secara tidak senagaj bersatu mengusir pasukan pendudukan…..hikayat Malem dagang salah satu buktinya…sekian dulu brur…salam
14/02/2011 at 8:14 AM
salam jg bro…, mengenai daerah kekuasaan majapahit yang puncak kejayaannya pd masa raja Hayam Wuruk dan Mahapatihnya Gajah Mada, memang sampai saat ini masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Ada yang mempercayai begitu hebatnya sosok Gajah Mada berdasarkan beberapa prasasti maupun kitab2 kuno seperti pararaton maupun negarakartagama, namun ada juga yang sebaliknya,misalnya dalam peristiwa bubat versi majapahit berbeda dengan versi sunda yang ditulis dalam kitab sundayana.
Kalau mengenai bukti penaklukan gajah Mada terhadap Aceh, saya juga tdk bs memaparkannya krn hal itu butuh penelitian secara ilmiah. Tapi saya setuju dgn Anda bahwa Aceh merupakan daerah yg besar n kuat, jangankan spanyol n portugis…, belanda saja butuh beratus2 tahun utk dapat menaklukkannya..
satu hal lg, penulisan sejarah di Indonesia mmg masih bersifat jawasentrisme (berpusat pada jawa), jadi butuh ahli2 sejarah dr daerah2 lain utk dpt mengekspose peristiwa sejarah di daerahnya agar peristiwa sejarah yang seharusnya menjadi sejarah nasional tdk hanya sampai pada tingkat sejarah lokal saja…
08/10/2011 at 8:56 PM
Ralat bro: Penulis Kidung Sundayana adalah pihak Bali bukan orang Sunda. Ditulis pd tahun 1600-an…250 tahunan setelah Hayam Wuruk..
09/10/2011 at 12:42 AM
kemungkinan bsr memang penulis kidung sundayana (perjalanan org sunda) adalah org bali. dan trimakasih atas saran utk melihat blog http://serbasejarah.wordpress.com/2009/11/02/biarkan-perang-bubat-berlanjut/. isinya menarik dan saya baru tau ada yg berpendapat kalau alasan dibalik perang bubat itu adalah karena ibunda hayam wuruk sendiri. tapi itulah menariknya sebuah peristiwa sejarah,, setiap org akan berbeda memandang dan menafsirkannya walau sumber, bukti dan faktanya sama.
08/10/2011 at 8:58 PM
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/11/02/biarkan-perang-bubat-berlanjut/
Silakan telusuri dialog diatas..
27/12/2011 at 9:52 AM
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2338/hikayat-raja-pasai
Di Matangkuli, Kecamatan Minye Tujoh, Aceh Utara, terdapat sebuah makam kuno yang pada nisannya bertuliskan Arab dan Jawa Kuno. Dituliskan di nisan itu, orang yang dimakamkan adalah Ratu Ilah Nur yang meninggal tahun 1365. Siapa Ilah Nur ? Ilah Nur adalah seorang Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai. Keterangan itu juga dapat diperoleh di kitab Negara Kartagama tulisan Prapanca. Disebutkan, Samudera Pasai merupakan daerah yang ditaklukkan oleh Hayam Wuruk, dengan Patihnya Gajah Mada. Buku Hikayat Raja Raja Pasai juga menyebutkan tentang kekuasaan Majapahit terhadap Pasai. Setelah segala sesuatunya diatur di Pasai, laskar Majapahit kembali ke Jawa. Namun, sebelum kembali, pembesar-pembesar Majapahit mengangkat seorang Raja, yaitu Ratu Nur Ilah. Ratu Nur Ilah merupakan keturunan Sultan Malikuzzahir. Tidak banyak keterangan yang didapatkan oleh peneliti tentang masa pemerintahan Ratu Ilah Nur ini.
http://koetaradja.wordpress.com/tag/hikayat-raja-raja-pasai/
Penguasaan Majapahit atas beberapa kerajaan tetangganya memang tidak erat atau mencengkeram seperti para penjajah Eropa. Majapahit lebih longgar bahkan terkesan membebaskan soal politik, budaya bahkan agama diserahkan kpd kerajaan bawahan. Paling2 yg diminta Majapahit adalah beberapa hak istimewa dagang.
Misteri Hikayat Raja Pasai
TA Sakti – Budaya
International Seminar Malikussaleh: present, past and Future berlangsung di Gedung ACC Universitas Malikussaleh (Unimal), Lhokseumawe, 11 s/d 12 Juli 2011. Suasana seminar meriah dan gegap gempita. Namun, di balik kemeriahan seminar itu, ada satu butir sejarah “Malikussaleh” yang terlupakan. Yakni, mengenai naskah Hikayat Raja Pasai (lengkapnya: Hikayat Raja-Raja Pasai, selanjutnya disingkat HRRP) yang tidak dibahas secara khusus dalam sebuah makalah. Pengkajian yang rinci ini cukup penting, karena dalam naskah HRRP masih banyak “misteri” yang belum terjelaskan; di antaranya yaitu:Pertama, HRRP ditulis dalam bahasa Melayu. Padahal ratusan naskah yang berjudul hikayat – bahkan menurut UU.Hamidy sampai seribuan judul – yang pernah ditulis di Aceh nyaris semuanya disusun dalam bahasa Aceh. Pertanyaan yang muncul; kenapa HRRP tertulis dalam bahasa Melayu? Inilah pertanyaan yang belum mendapat jawaban yang memuaskan sampai hari ini.
Ada yang berpendapat, bahwa masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai memang berbahasa Melayu, sehingga HRRP pun ditulis dalam bahasa Melayu. Prof. Dr. Ibrahim Alfian dalam bukunya “Kronika Pasai” di halaman 8 mendukung pendapat ini bahwa rakyat Kesultanan Samudra Pasai memakai bahasa Melayu. Sewaktu Samudra Pasai digabungkan dengan Kerajaan Aceh Darussalam, masuklah bahasa Aceh ke wilayah itu.
Ada pula alasan yang lain, bahwa bahasa resmi Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu, dengan nama bahasa Melayu Pasai. Saya sendiri lebih memilih alasan ini, bahwa bahasa nasional Kerajaan Samudra-Pasai adalah bahasa Melayu Pasai, sedangkan bahasa sehari-hari masyarakatnya yaitu bahasa Aceh.
Setelah Kesultanan Samudra-Pasai runtuh, bahasa Melayu Pasai diambil alih oleh Kerajaan Malaka. Kemudian, ketika Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis tahun 1511 M, bahasa Melayu Pasai berkembang pula di Kerajaan Aceh Darussalam sekaligus menjadi bahasa nasional kerajaan itu. Kita belum tahu yang mana di antara kedua pendapat itu yang lebih mengandung kebenaran.
Kedua, naskah HRRP dijumpai di Pulau Jawa. Hikayat Raja-raja Pasai yang merupakan bukti satu-satunya tentang kerajaan Samudera Pasai dalam bentuk tulisan dalam bahasa Melayu, naskahnya bukan ditemukan di Aceh melainkan di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pemiliknya Kiai Suradimenggala mantan Bupati Demak. Atas inisiatif Thomas Stamford Raffles Wakil Gubernur Jenderal Inggris di Jawa saat itu mengongkoskan orang untuk menyalinnya. Setelah Raffles meninggal, istrinya menyerahkan naskah itu ke perpustakaan Royal Asiatic Society di London tahun 1830. Tidak lama kemudian, sarjana Perancis E. Delaurier membuat kajian terhadap naskah tersebut, yang seterusnya diterbitkan di Paris tahun 1848. Buku itulah yang sampai ke Aceh, hingga kita dapat membaca sejarah kerajaan Samudera-Pasai dalam bentuk tulisan, baik Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sebenarnya, terkait sejarah Samudra Pasai, ada satu naskah lain dalam bahasa Aceh, yaitu Hikayat Raja Bakoy, namun kita tak pernah mendengar lagi mengenai posisi keberadaannya.
Kembali ke pokok bahasan. Kenapa HRRP berada di Jawa dan bukan di Aceh utara sebagai tempat yang jadi materi isi hikayat itu? Prof. Dr. Ibrahim Alfian menyebutkan, HRRP ditulis oleh pujangga kalangan istana Samudra-Pasai sendiri dalam rangka mengangkat citra para sultan di hadapan rakyatnya. Karena itu, dalam hal asal-usul HRRP, ia menyatakan ada kemungkinan HRRP dibawa ke Jawa oleh salah seorang tawanan Pasai yang dibawa ke Jawa oleh pasukan Majapahit(Lihat “Kronika Pasai” hlm. 7).
Saya sendiri sedikit berbeda dengan pendapat Guru Besar saya di Fakultas Sastra UGM itu. Panduan yang saya pakai juga sama, yaitu HRRP walaupun kesimpulannya sedikit berlainan. Pada halaman 97 naskah berhuruf Arab Melayu atau Jawi/Jawoe dalam “Hikayat Raja- Raja Pasai”; pada kisah yang membicarakan serangan kerajaan Majapahit terhadap Kerajaan Samudra – Pasai. Hikayat yang berhuruf Arab Melayu/Jawi itu menceritakan, ketika pasukan Majapahit tiba kembali di negerinya setelah menaklukkan Kerajaan Samudra – Pasai, maka Sang Nata (Raja) Majapahit bertitah: “Akan segala tawanan orang Pasai itu suruhlah ia duduk di Tanah Jawa ini mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya, maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit”. Berdasarkan kisah di atas, saya berkesimpulan bahwa HRRP ditulis di Jawa setelah ( keterunan ) para tawanan Pasai menetap di sana. Kalau bukan dikarang di Jawa, maka kalimat “maka banyak keramat di Tanah Jawa itu, tatkala zaman alah Pasai oleh Majapahit” tentu tidak dimuat dalam HRRP karena peristiwa itu belum terjadi atau si pengarang tidak mengetahui hal itu.
Boleh jadi dalam perkembangan berikutnya, para tawanan asal Pasai itulah yang berperan menyiarkan agama Islam di Jawa dan merekalah yang membentuk “Dewan Dakwah Sembilan Wali” yang kemudian terkenal dengan Walisongo. Dalam hal ini saya berpendapat, HRRP ditulis oleh salah seorang ( keturunan ) tawanan Pasai yang sudah menetap di Kerajaan Majapahit.
Ketiga, karena kemakmurannya, maka mata uang Kerajaan Samudra Pasai ditempa dari emas dengan sebutan dirham emas yang merupakan mata uang emas tertua di Asia. Sampai hari ini, jika hujan lebat turun beberapa kali, masyarakat di sekitar pemakaman raja-raja Samudra Pasai, masih menjumpai dirham-dirham emas yang tersembul dari tanah. Sewaktu saya berziarah ke Kompleks Makam Ratu Nahrisyah tanggal 12 Juli 2011 lalu, beberapa meter di selatan makam ada orang yang memamerkan batu cincin yang berwarna-warni. Menurut saya, batu cincin memang “bersaudara” dengan bongkahan emas yang dikandung Bumi Samudra Pasai.
Dalam HRRP ada dua tempat yang mengisyaratkan bahwa Bumi Kerajaan Samudra Pasai banyak mengandung emas. Sewaktu Meurah Silu belum menjadi raja, ia punya kebiasaan menangkap ikan dengan menahan bubu (theun bubee) di sungai. Suatu pagi ia mengangkat bubunya, ternyata yang masuk puluhan ekor cacing, lalu dibuangnya. Besok pun demikian sampai tiga kali. Pada kali ketiga, cacing-cacing itu ia bawa pulang ke rumah dan merebusnya. Selesai direbus, ternyata cacing-cacing itu berubah menjadi emas, berbentuk gelang emas. Sejak itu, Meurah Silu menjadi kaya-raya, dan emas-emas itulah yang membawanya menjadi raja.
Pada halaman 30 HRRP yang berhuruf Arab Melayu/Jawoe mengisahkan isu yang sedang hangat di Kerajaan Samudra Pasai. Kabar itu menyebutkan, Bumi Samudra Pasai kaya emas. Bahkan ada tujuh tempat yang mengeluarkan asap emas. Kabar itu berasal dari orang Keling (asal India) yang ahli “melihat asap emas”. Suatu kali kapal dari negeri Keling merapat ke pelabuhan Pasai.
Pakar ‘tambang emas’ dipanggil ke istana. Berkat petunjuk “ahli melihat asap emas” yang berasal dari negeri Keling itu, Sultan Malikussaleh menjadi amat kaya karena memiliki batangan emas yang melimpah. Dulu, negeri Sultan Malikussaleh itu banyak menyimpan “Harta Karun”. Ternyata Bumi Samudra Pasai, bukan hanya mengandung gas LNG tetapi banyak berisi emas pula. Biar terkesan cerita dongeng, tapi ‘jika tak ada api, tentu tak akan ada asapnya’. Ketika gas LNG sudah menyusut seperti sekarang, kisah dalam HRRP yang ‘misterius’ itu tentu perlu dicermati pula. Putra-putri Samudra Pasai pasti sudah lebih cerdas sekarang dan tak perlu bantuan “orang Keling” lagi!
Memang, misteri HRRP khususnya dan sejarah Kerajaan Samudra Pasai umumnya; masih banyak yang belum tergali. Buku-buku sejarah Aceh yang sudah terbit hanya sekilas membahasnya atau paling banyak hanya satu bab. Dosen dan guru-guru sejarah juga kurang memberi perhatian.
Jalur mengangkat kembali sejarah Samudra Pasai memang banyak. Namun keberhasilannya amat tergantung keseriusan berbagai pihak. Salah satu pihak yang paling menentukan adalah kepedulian pemerintah. Untuk mempertegas kepedulian itu, saya menyarankan diwujudkan sebuah qanun tentang “Penggalian Peradaban Samudra Pasai”; seperti halnya Pemerintah Provinsi Riau yang kini sedang menggarap Peraturan Daerah (Perda) mengenai “Kepahlawanan Riau”.
Salah satu muatan penting dari qanun itu adalah perlu dibangunnya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) atau semacamnya seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Aceh Utara. Bila FIB atau FKIP sudah wujud di Aceh Utara, maka terbukalah kesempatan “Membangkitkan Peradaban Samudra Pasai’ secara luas, berencana, dan kontinyu/berkelanjutan.
* Penulis adalah dosen dan peminat sejarah, tinggal di Banda Aceh.
( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu, 24 Juli 2011 pada rubrik Budaya).
* ( keturunan ), saya tambah kemudian. Bale Tambeh, 10 November 2011, pkl 7.07 Wib., T.A. Sakti.
29/12/2011 at 9:02 PM
info yg sgt bermanfaat…trima kasih
27/12/2011 at 10:06 AM
Pertalian Pasai dan Majapahit
Dari AcehPedia
Langsung ke: navigasi, cari
Ratu Nur Ilah merupakan salah satu penguasa perempuan yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Pasai. Ia mangkat pada tahun 1380 Masehi. Ia diangkat menjadi ratu setelah Pasai diserang oleh Majapahit.
Mengenai sejarah perempuan perkasa ini sudah banyak ditulis oleh para ahli sejarah, diantara Dr Hoesein Djajaninggrat, yang langsung meneliti pahatan tulisan beraksara Arab di makanya. Kemudian Dr Othman M Yatim pakar arkeologi Islam Malaysi bersama Abdul Halim Nasir.
Menurut mereka, inskripsi yang terdapat pada nisan yang bertulisan Arab menyebutkan angka tahun mangkat sang Ratu yaitu Jumat 14 Zulhijah tahun 791 Hijrah, sedangkan yang tertera pada nisan yang berhuruf Jawa Kuno terpahat tahun 781 Hijrah. Jadi, antara kedua nisan itu terdapat selisih 10 tahun.
Menurut Dr W F Stutterheim, hal itu terjadi karena kesilapan pemahat sehingga, baginya, tahun yang tertera pada nisan yang bertulisan Jawa Kuno, yang bertepatan dengan tahun 1380 Masehi tersebut, merupakan tahun mangkatnya Ratu itu. Tulisan Jawa Kuno yang terpahat pada nisan yang sebuah lagi telah diteliti oleh Stutterheim dan dimuat dalam Acta Orientalia, Leiden, tahun 1936.
Hooykaas menerjemahkan syair di nisan itu sebagai berikut : “Ssetelah hijrah Nabi, kekasih, yang telah wafat, tujuh ratus delapan puluh satu tahun, bulan Zulhijah , 14, hari Jumat, Ratu iman Werda rahmat Allah bagi Baginda, dari suku Barubasa [di Gujarat], mempunyai hak atas Kedah dan Pasai, menaruk di laut dan darat semesta, ya Allah, ya Tuhan semesta, taruhlah Baginda dalam swarga Tuhan.’’
Prof Dr T Ibrahim Alfian adalam tulisannya dimuat dalam buku Wanita-wanita Perkasa di Nusantara, data lain yang berkaitan dengan sang Ratu, maupun yang berhubungan dengan takluknya Kedah kepada Pasai, sampai sejauh ini belumlah ditemukan, kecuali informasi dari nisan Ratu Nurilah yang tersebut di atas.
Meskipun demikian, pertalian kebudayaan antara Pasai dan Kedah telah terjalin lama seperti yang terlihat, antara lain, dari persamaan istilah untuk menyukat hasil-hasil pertanian, misalnya padi dan beras. “Stutterheim juga menganggap penyebutan dua kerajaan itu sangat menarik karena antara Pasai dan Kedah di waktu kemudian terdapat hubungan dagang, mengingat, di Selat Malaka, letaknya berseberangan. Mungkin hubungan inilah yang masih tersisa dari kesatuan Kerajaan Sriwijaya dan Kadara masa lalu, yaitu Sumatra dan Malaya,” jelasnya.
Namun yang menjadi pertanyaan baginya adalah mengapa di antara nisan Ratu Nur Ilah ini terdapat tulisan Jawa Kuno? Ratu Nurilah, sebagaimana disebutkan di atas, mangkat pada tahun 1380, masa Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk. “Patut dicatat bahwa Majapahit berada dalam puncak kejayaan pada pertengahan abad XIV berkat pimpinan Mahapatih Gadjah Mada. Dalam kitab Negarakrtagama yang digubah oleh Prapanca pada tahun 1365 disebutkan bahwa Samudra, tepatnya Samudra Pasai, adalah salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit,” ungkapnya dalam tulisan tersebut.
Kemudian ia melanjutkan, sumber lain mengenai adanya serangan Majapahit terhadap Pasai terdapat dalam Kronika Pasai atau Hikayat Raja-raja Pasai. Meskipun tidak menyebutkan angka tahun penyerangan itu, hikayat ini masih memberikan indikasi waktu, yaitu dengan menceritakan nama raja yang berkuasa pada waktu serangan itu terjadi, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ahmad.
Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa setelah tiga hari tiga malam berperang, kalahlah Pasai sehingga rakyat lari cerai berai. Laskar Majapahit masuk ke dalam kota Pasai dan menduduki istana Sultan Ahmad. Banyak rampasan dan tawanan yang mereka peroleh. Sultan Ahmad meninggalkan istana, melarikan diri ke suatu tempat kira-kira lima belas hari perjalanan dari negeri Pasai.
Setelah beberapa lama di Pasai, segala menteri punggawa dan rakyat Jawa dikerahkan oleh Senapati mereka naik ke bahteranya masing-masing, kembali ke Jawa, dengan memuat segala harta rampasan yang begitu banyak. Setelah sampai ke Majapahit, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, Sang Nata bertitah, ‘’Akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, maka kesukaan hatinya’’. Titah itulah, kata Hikayat Raja-raja Pasai selanjutnya, yang menyebabkan ‘’maka banyak keramat di Tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu’’.
Dalam kaitan ini P De Roo de la Faille, dalam tulisannya ‘’Bij de Terreinschets van de Heilige Begraafplaats Goenoeng Djati’’, 1920, mengemukakan bahwa ditemukannya cungkub Puteri Cermen di desa Leran dengan candrasengkala 1313 atau 1308 Saka bertepatan dengan tahun 1391 atau 1386 Masehi menunjukkan telah adanya makam Islam di Gresik pada waktu itu. Hal itu, sesuai dengan dugaan de Roo de la Faile, bahwa koloni orang-orang Islam Gresik pada masa itu sesungguhnya berasal dari tawanan orang-orang Islam Pasai yang dibawa ke Majapahit.
Masih menurut Ibrahim Alfian, Dalam sebuah naskah Jawa, Tapel Adam, nama Pasai tercantum dalam sejarah pendakwah-pendakwah Islam pertama. Didalamnya diceritakan bahwa Syaikh Jumadilkubra adalah keturunan Zainul Abidin, sedangkan putera Jumadilkubra yang tertua adalah Maulana Ishak. ‘’wontening pase negeri, anyelammaken taiya, manjing Islam Nate Pase’’, dan puteranya yang kedua, Ibrahim Asmara, ‘’lumampah dateng Cempa’’.
Di dalam naskah Tapel Adam juga dikisahkan tentang Batara Majapahit yang memperisterikan puteri Raja Pasai dan saudara puteri itu datang ke Majapahit serta kemudian oleh Batara Majapahit dihadiahkan tanah Ampel-denta sebagai tempat kediamannya. Cerita seumpama ini terdapat pula dalam Hikayat Banjar yang juga akan dikemukakan di bawah ini.
Kemudian lanjut Ibrahim Alfian, pada akhir naskah Hikayat Raja-raja Pasai diceritakan sebagai berikut. ‘’Bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu [Raja] Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya [kalahnya] Negeri Pasai, ratunya [rajanya] bernama Ahmad.’’
Cerita itu disertai dengan daftar nama-nama 35 buah negeri yang takluk kepada Majapahit, antara lain, untuk menyebutkan beberapa, Tiuman, Riau, Bangka, Sambas, Jambi, Kutai, Bima, Sumbawa, dan Seram. Hikayat Banjar juga menyebutkan bahwa yang takluk kepada Majapahit adalah Banten, Jambi, Palembang, Makasar, Pahang, Patani, Bali, Pasai, Campa, dan Minangkabau.
Nur Ilah Diangkat Jadi Ratu Masih menurut Ibrahim Alfian, sebelum bala tentara Majapahit meninggalkan Pasai, kembali ke Jawa, rupanya pembesar-pembesar Majapahit telah mengangkat seorang raja, bangsawan Pasai, yang dapat dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasai. Raja ini tiada lain adalah Ratu Nur Ilah, keturunan Sultan Malikuzzahir, yang nisannya ditatah dengan huruf Jawa Kuno atas arahan yang diberikan oleh pembesar-pembesar Majapahit, tentunya.
Antara Kerajaan Majapahit dan Pasai terdapat hubungan persahabatan dan perdagangan yang sangat erat. Malaka yang mulai berkembang sebagai bandar dagang yang besar sekitar tahun 1400 Masehi mengakui peranan Pasai dan Majapahit dalam bidang perdagangan di Selat Malaka.
Tome Pires, yang menulis catatannya di Malaka dan India antara tahun-tahun 1512-1515 dalam Bahasa Portugis, dengan judul Suma Oriental, mengemukakan sebagai berikut. Malaka mengirim dutanya ke Majapahit untuk merayu Raja Jawa agar pedagang-pedagang Jawa mau melakukan kegiatan perdagangannya di Bandar Malaka. Raja Jawa mengemukakan kepada utusan Malaka itu, bahwa jung-jungnya telah lama sekali berlayar ke Pasai untuk berniaga dan ia mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Pasai.
Di pelabuhan Pasai pedagang-pedagang Jawa memperoleh kedudukan istimewa dalam bentuk pembebasan dari keharusan membayar cukai impor serta ekspor dan perolehan barang dagangan yang baik dang menguntungkan. Raja Majapahit menambahkan, meskipun Raja Pasai menjadi vasal Majapahit, penentuan kebijaksanaannya dalam bidang perdagangan terserah kepada Raja Pasai sendiri. Ia sendiri tidak hendak menghapuskan kebiasaan yang telah lama ada dan telah disepakati sejak lama antara kedua kerajaan itu.
Setelah dutanya kembali ke Malaka, Raja Malaka mengirimkan pesan kepada Raja Pasai, mengharapkan kebaikannya agar menyetujui dan tidak berkecil hati jika Jawa berhubungan dagang dengan Malaka, serta memohon kebaikan Raja Pasai untuk megirimkan pedagang-pedagangnya beserta barang-barang dagangannya ke Malaka.
Raja Malaka juga menyampaikan bahwa ia telah mendapat jawaban dari Raja Majapahit, bahwa jika Raja Pasai bersetuju, Raja Majapahit akan berbesar hati. Raja Pasai kemudian mengirimkan utusannya ke Malaka untuk menyampaikan pesan bahwa Pasai tidak keberatan memenuhi permintaan Raja Malaka apabila Raja tersebut bersedia memeluk agama Islam. Akhirnya, Raja Malaka beserta segenap rakyatnya beriman akan Allah dan rasul-Nya dan sesudah itu banyak sekali pedagang Islam dari Pasai pindah berdagang ke Malaka, terutama bangsa Arab, Parsi dan Bengal.
Tautan antara Pasai dan Majapahit juga diungkapkan oleh Dr J J Ras dalam desertasinya yang dipertahankan pada tahun 1968 di Rijksuniversiteit Leiden, yaitu Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography. Di dalamnya dikisahkan tentang Raja Majapahit yang belum Islam, yang mengirim utusannya untuk meminang putri Pasai. Meskipun raja Pasai itu beragama Islam, ia tidak kuasa menolaknya, takut diserang oleh Majapahit. Ia hendak memelihara rakyat dan negerinya dari kebinasaan. Di Majapahit puteri Pasai itu diberi tempat tinggal yang terpisah, tiada bercampur dengan gundik-gundiknya yang lain, agar tiada memakan makanan yang haram.
Selang beberapa waktu datanglah saudara Puteri Pasai, Raja Bungsu namanya. Setelah beberapa lamanya ia di Majapahit, ia ingin kembali ke Pasai. Puteri Pasai itu tiada sekali-kali ingin saudaranya pulang ke Pasai, karena ia tidak mempunyai sanak saudara di Majapahit. Oleh karena Raja Bungsu berkeras hendak pulang juga ke Pasai maka puteri itu merasa sangat sedih. Karena Raja Majapahit sangat sayang kepada Puteri Pasai itu, dimintanya kepada Raja Bungsu agar tinggal saja di Majapahit, agar Puteri itu tidak sampai jatuh sakit. Raja Majapahit bertitah jika Raja Bungsu bersedia tinggal di Majapahit, ia dapat mendirikan rumah ditempat mana saja yang disukainya.
Akhirnya Raja Bungsu memilih Ampel sebagai tempat kediamannya dan Raja Majapahit berkenan meluluskan permohonan Raja Bungsu itu. Ketika menebas hutan di dukuh Ampel itu, Raja Bungsu menemukan kayu gading yang kemudian dijadikan tongkat. Sejak itu, dukuh itu terkenal dengan nama Ampelgading hingga sekarang ini. Karena desa Ampel hendak memeluk agama Islam, Raja Bungsu mengirim utusannya untuk menyampaikan hasrat tersebut kepada saudaranya, Puteri Pasai, yang kemudian meneruskannya kepada suaminya, Raja Majapahit.
Sabda Raja Majapahit menurut Hikayat Banjar, berbunyi demikian: ‘’Katakan arah Bungsu, barang siapa handak masuk Islam itu terima masukkan Islam itu. Jangankan desa itu, maski orang dalam nageri Majapahit ini, namun ia hendak masuk Islam itu, masukkan’’. Setelah suruhan Bungsu kembali ke Ampel, seluruh penduduk Ampel memeluk agama Islam.
sumber
27/12/2011 at 10:07 AM
Sangat salah bila menyamakan Majapahit dengan Orba yg militeristik dan sangat mencengkeram…
26/12/2011 at 1:31 AM
Kalau menutut saya sih siasat licik untuk menguasai wilayah lain memang diterapkan Gajah Mada saat itu..norma2 ksatria sekarang jelas beda dengan kesatria jaman dulu, Ksatria penakluklah yang dihormati bukan kesatria sportif…
Bukan cuma bubat..Cara GM menaklukan Patih Bali bernama Kebo Iwa menurut kacamata saya sih lumayan licik karena dengan perang fisik Kebo Iwa sulit dikalahkan, akhirnya dihabisi dengan muslihat… Jadi bisa aja memang Majapahit memang tidak mampu menaklukkan Sunda. Topografi tatar sunda memang menyulitkan pergerakan pasukan dalam jumlah besar apalagi yang tidak mengenal medan bisa habis dengan taktik gerilya.
26/12/2011 at 11:35 PM
anda benar juga…mungkin karena itu ya ada ungkapan klasik “semuanya halal dalam perang dan cinta”… hehehehe
18/04/2013 at 12:44 PM
setuju dengan pendapat bung fery tentang argumen sulitnya Majapahit menaklukan Pajajaran. Dari sederetan novel yang menampilkan kegagahan Gajah Mada dan Majapahit, kemampuan kerajaan Pajajaran untuk bertahan dari sumpah Palapa Gajah Mada dikatakan lebih karena faktor kekerabatan kedua kerajaan. Namun demikian, pendapat tersebut ganjil, dan menimbulkan pertanyaan.
Pertanyaan pertama, pasca peristiwa Bubat yang menewaskan prabu linggabuana hubungan diplomatik kedua negara otomatis menjadi hostiled. Selain itu Padjajaran juga berada dalam status quo yang secara militer ini merupakan keuntungan bagi Majapahit. Kemudian, hingga kedua kerajaan runtuh pun, hubungan kedua kerajaan tidak pernah membaik, justru yang timbul adalah sentimen antar kedua kerajaan. Lalu, mengapa Majapahit tidak sekalian saja menyerang Pajajaran pasca peristiwa Bubat?
pertanyaan kedua, argumen mana yang lebih rasional, Gajah Mada mengultimatum Prabu Pajajaran untuk tunduk di Bubat karena tidak ingin menaklukan Pajajaran lewat perang atau karena sulitnya menembus pertahanan Pajajaran hingga kelingkaran Prabu Linggabuana seandainya pecah perang terbuka di darat antara Majapahit-Pajajaran. jika anda codong kepada opsi pertama lantas apakah Gajah Mada tidak memikirkan kemungkinan penolakan dari Prabu Linggabuana yang artinya juga akan menghadirkan pada pertumpahan darah?
14/08/2012 at 10:50 AM
perlu, penting penelusuran skaligus pelurusan sejarah agr generasi bangsa mampu mencerna dgn sebanarnya
19/12/2012 at 11:33 AM
saya ingin tahu, kutipan Negarakertagama yang menyatakan bahwa Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki.
21/12/2012 at 11:47 AM
diskusinya keren sekali..
cerita tentang nusantara dan Indonesia memang sangat menarik.
lanjutkan gan!
17/02/2013 at 6:47 PM
Yang namanya perang, TAKTIK dan STRATEGI harus dilakukan brow, apalagi perang jaman kerajaan, bukan MAHAPATIH gelar GAJAHMADA jika tidak mampu tundukkan raja raja Nusantara, apalagi ada AMUKTI PALAPA. Sekali lagi, dalam perang tidak ada menang karena licik, atau kalah karena diliciki, tapi yg berperan the Power of strategi. Astungkara
02/03/2013 at 12:24 PM
alasan yang anda sampaikan tidaklah salah, paling tidak itulah fakta sejarah yang sebenarnya, tapi jarang orang menyampaikan alasan seperti yang pernah terjadi di India, bagaimana Raja Asoka, Raja terbesar Abad III SM sudah disarankan untuk tidak menundukkan kerajaan kalingga, walaupun kerajaan itu kecil, tetapi kalingga kerajaan lebih tua, yang sepantasnya untuk tetap dihormati, begitu pula Majapahit itu kerajaan besar, tetapi Sunda adalah kerajaan kecil yang lebih tua, dan sepantasnya untuk tetap dihormati, seperti yang ada dalam budaya Brahmanisme, Hindu dan Buddha, karena kalau tidak menghormmati yang lebih tua malapetaka akan datang, dan ini yang terjadi pada raja Asoka, dan Kerajaan majapahit khususnya Gajah Mada. maka fakta sejarah Sunda, baru bisa ditundukkan setelah lunturnya budaya Hindu Buddha, alias ditundukan oleh kerajaan baten
13/03/2013 at 7:12 PM
jd bingung mana yg bener nih broo..jd pingin hidup di masa itu heheheheh lanjuttttt….????????
19/03/2013 at 1:05 AM
jgn broo… idup di masa skrg aja udah sulit xixixiixiii
07/04/2013 at 10:34 AM
sejarah majapahit menguasai seluruh sumatra adalah karangan sukarno belaka….aku liat d minang kabau ga ada ko bukti peninggalan kerajaan majapahit,..yg ada menurut cerita kakek ku waktu pasukan majapahit mau masuk ke minangkabau,pasukan mereka dibantai habis didaerah solok,,perbatasan minangkabau dengan jambi.. banyaknya mayat tentara majapahit yg bergelimpangan dan saking busuknya…maka daearah tersebut dinamakan padang sibusuk…dan daerah padang sibusuk masih ada sasmpai sekarang.. majapahit menguasai asiatenggara itu hanya dongeng,khayalan sukarno belaka…
14/04/2013 at 5:58 PM
simple saja mikirnya!!! ngk mungkin lah…senjata hampir sama, ukuran phisik lebih besar orang2 maluku, timor, nusatenggara dan irian jaya…jadi jangan percaya dongeng yg dihembus2kan oleh penguasa orde baru untuk memperkuat citranya yg kebetulan dari etnis jawa!!!
29/04/2013 at 4:49 PM
yah, namanya juga sejarah, tidak ada saksi mata, yang ada hanya perkiraan orang-orang setelahnya, yg terjadi puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, sy rasa sangat wajar kalo terjadi perbedaan pendapat, masalah raffi saja juga banyak pendapat yang berbeda, salam silaturrahmi …
08/05/2013 at 8:39 PM
menurut saya meskipun kerajaan sunda kecil,tapi pada kenyataannya sosok gajah mada yang katanya sakti mandarguna memang tidak punya kemampuan untuk menaklukannya,hingga cara licik dan picik lah yang dipakai untuk mengejar ambisinya?
11/05/2013 at 2:52 PM
Sepengetahuan saya tidak ada naskah sejarah yg menyebut Gajah Mada itu sakti mandraguna.
Terlepas dari keburukannya dan keberhasilan atau kegagalannya, Gajah Mada adalah sosok yg terekam dalam naskah yg terjaga sampai sekarang (Pararaton) sebagai orang yg ingin mempersatukan pulau2 di bawah satu negara. Mungkin itu nilai plusnya.