Beberapa waktu yang lalu aku pernah mempertanyakan kehebatan Gajah Mada terkait dengan masalah perang Bubat yang terjadi sekitar tahun 1537 M, yang menjadi titik hitam perjalanan hidupnya. Bagaimana mungkin seorang Gajah Mada menggunakan taktik licik hanya untuk menaklukan sebuah kerajaan kecil di seberang kerajaannya. Namun akhirnya aku menemukan jawabannya. Ternyata Gajah Mada Memang Sehebat Namanya!!

Bukan karena ketidakmampuannya dalam strategi perang hingga kerajaan kecil itu, yaitu kerajaan Sunda (atau ada yang menyebutnya sebagai kerajaan Pajajaran) namun karena suatu alasan yang cukup logis. Novel Hermawan Aksan yang berjudul ”Dyah Pitaloka (Korban Ambisi Politik Gajah Mada)” memberikan jawaban tersebut.

Novel Dyah Pitaloka (Korban Politik Gajah Mada) merupakan sebuah novel sejarah yang bercerita tentang sosok Dyah Pitaloka yang digambarkan sebagai wanita cerdas yang begitu terusik oleh masalah gender. Wanita yang kecantikannya dilukiskan ibarat Ken Dedes dan wanita yang kecerdasannya di ibaratkan seperti TribuanaTunggadewi. Dalam novel ini diceritakan bagaimana kehidupan Dyah Pitaloka dan bagaimana dia dan kerajaannya, kerajaan Sunda, menjadi batu sandungan bagi ambisi Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara dipawah panji kekuasaan Majapahit.

Gajah Mada mampu menaklukkan daerah-daerah di Nusantara bahkan sampai ke Asia Tenggara. Gajah Mada berhasil menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara dan diluar Nusantara yang dibagi menjadi delapan wilayah besar.

Wilayah Pertama adalah Jawa, Madura dan Galiyao.

Wilayah kedua meliputi seluruh Andalas, yakni Lampung, Palembang, Jambi, Karitang, Muara Tebo, Darmasyara, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing, Tamiang, Perlak Barat, Lawas, Samudra Pasai, Lamuri, Bantam, dan Barus.

Wilayah ketiga yaitu seluruh pulau Tanjungnegara, meliputi Kapuas, Katingin, Sampit, Kutalingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kedangdangan, Landak, Samedang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka Saludung, Solot, Pasir, Barito, Sebuku, Tabalong, Tanjung Kutai, Malanau, dan Tanjungpuri.

Wilayah keempat, seluruh semenanjung Malaka meliputi Pahang, Hujung Medini, Lengkasuka, Saimwang, Kelantan, Trengganu, Nagor, Pakamuar, Dungun, Tumasik, Sang Hyang Hujung, Kelang, Kedah, Jere, Kanjap dan Niran.

Wilayah kelima yaitu seluruh sunda Kecil meliputi Bali, Bedudu, Lwagajah, Gurun, Taliwang, Sapi, Sang Hyang Api, Bima, Seram, Hutan, Kedali, Lombok Mirah, Sasak, Sumba dan Timor.

Wilayah keenam yaitu seluruh Sulawesi meliputi Bantanyan, Luwu, Udamakaraja, Makasar, Buton, Banggai, Kunir, Salaya dan Solor.

Wilayah ketujuh yaitu seluruh Maluku meliputi Muara, Wandan, Ambon dan Ternate.

Dan wilayah kedelapan yaitu seluruh irian bagian barat meliputi Onin di utara dan Seran di selatan.

Selain itu Majapahit juga disegani negara tetangganya seperti Syanka, Darmanegara, Martaban, Kalingga, Singanegari, Campa, Camboja dan Annam. Namun ada sebuah kerajaan yang menjadi kerikil yang tak mampu ditaklukkannya, yaitu kerajaan kecil yang terletak dipulau yang sama dengan kerajaan Majapahit. Kerajaan itu bernama kerajaan Sunda (Pajajaran), tempat Dyah Pitaloka berasal.

Alasan kenapa Gajah Mada tak mampu menaklukan Kerajaan Sunda bukan karena ketidakmampuan strategi perangnya melainkan karena permintaan penguasa Majapahit sendiri yaitu Maharani Tribuanatunggadewi yang berkali-kali meminta agar Gajah Mada tidak mengganggu kerajaan Sunda. Ini dikarenakan terdapat hubungan kekerabatan antara Majapahit dan Sunda. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, memiliki darah Sunda. Inilah alasan mengapa Gajah Mada tak mampu menaklukkan kerajaan sunda.

Gajah Mada pun memikirkan cara selain perang untuk menaklukkan kerajaan kecil itu maka Gajah Mada membuat taktik yaitu pernikahan politik bagi dua kerajaan. Hayam Wuruk, Raja Majapahit, yang diceritakan sebagai raja besar namun tak memiliki permaisuri karena sifat pemilihnya yang tinggi, dijodohkan Gajah Mada dengan Dyah Pitaloka.

Gajah Mada berhasil membuat Hayam Wuruk jatuh cinta pada kecantikan Dyah Pitaloka. Walau banyak putri-putri cantik dari berbagai kerajaan bahkan berbagai negeri yang telah dipilihkan oleh penasehat2nya namun akhirnya Hayam Wuruk jatuh cinta pada putri seberang kerajaannya.

Atas permintaan Hayam Wuruk, raja Lingga Buana mengantarkan putrinya ke Majapahit dan sesampainya di Majapahit Hayam Wuruk akan menjemput sendiri rombongan raja sunda itu. Namun, Gajah Mada yang menganggap Kerajaan Sunda sebagai batu ganjalan atas Sumpah Palapanya memaksakan ambisinya. Dia menjemput sendiri rombongan Kerajaan Sunda dan meminta Raja Lingga Buana untuk menyerahkan Putrinya, Dyah Pitaloka, sebagai upeti sebagai tanda takluk kepada kerajaan Majapahit. Tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan Raja Majapahit. Akibatnya Raja Sunda marah dan Gajah Mada tetap memaksa.
Akhirnya perang tak terelakkan. Seluruh pasukan kerajaan Sunda yang berkisar 90-an orang tewas. Bahkan raja Linggabuana ikut tewas demi mempertahankan harga diri kerajaan Sunda. Dan begitu juga dengan Dyah Pitaloka yang memutuskan untuk menusuk jantungnya sendiri dengan patrem (tusuk konde), memilih untuk mati daripada harus menjadi upeti tanda takluk kepada kerajaan Majapahit.

Tragedi berdarah tersebut tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa perang bubat. Peristiwa yang hampir tak pernah disinggung dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Peristiwa besar yang menjadi titik awal kemunduran Gajah Mada.

Kira2 itulah ringkasan cerita dari novel diatas. Yang membuatku merasa lega adalah ketika ku mendapati alasan mengapa kerajaan Sunda yang begitu kecil tak mampu ditaklukkan oleh Gajah Mada, dari kerajaan besar Majapahit. Alasannya yaitu sebab ternyata kerajaan Majapahit memiliki silsilah keturunan dari raja kerajaan Sunda. Ini yang mengakibatkan Tribuanatunggadewi selalu meminta Gajah Mada agar tidak menyerang kerajaan Sunda. Sebab kerajaan Sunda memiliki ikatan dengan kerajaan Majapahit.

Berikut Silsilah kedua keraan tersebut

Selain itu ada kata2 dalam novel diatas yang membuatku merasa terusik. Yaitu ketika membahas tentang pemikiran gender dari Dyah Pitaloka. ”Namun, dibeberapa kitab, nama sang ratu ini seakan-akan sengaja dihilangkan”, sebait kalimat yang mengusik hatiku. Memang benar banyak kerajaan yang merasa malu mencatatkan nama wanita dalam perjalanan sejarahnya. Ini membuat wanita seakan2 hanya merupakan penghias didunia ini. Padahal banyak wanita2 nusantara yang memiliki kemampuan bahkan di atas kemampuan pria.

Jadi ingat serial korea ”Great Quenn Seon Deok”, ratu pertama korea. Begitu haru menyaksikan perjalanan Deok Man mengangkat masalah gender kedalam ranah pemerintahan. Tapi aku akan menjadi haru lagi andai saja Dyah Pitaloka juga bisa dikenal bangsa ini sebagai seorang wanita yang memikirkan betapa permasalahn gender itu menjadi hal tidak adil jika wanita selalu dianggap sebagai manusia kelas dua.

Begitu juga Ratu Sima, Ratu dari kerajaan Kalingga (Holing). Ratu yang pernah berkuasa dengan segala ketegasannya yang menyerupai raja Hamurabi dari kerajaan Babylonia di daerah Mesopotamia. Kenapa nama ratu Sima hampir tak dikenal oleh generasi bangsa ini? Apa yang dilakukan oleh ratu sima dalam memperjuangkan hak wanita dalam pemerintahan hampir tak sebanding dengan yang dilakukan oleh R.A kartini. Namun tak ada penghargaan akan jasanya yang mencoba menghapuskan permasalahan gender itu oleh bangsa ini.

Bangsa ini masih perlu banyak belajar tentang sejarah bangsanya sendiri. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya???
kembali ke atas

About these ads