Niskala, Gajah Mada Musuhku (Perjuangan Kerajaan Sunda Melawan Ambisi Penaklukan Majapahit)…
Itulah sebuah novel berlatar sejarah yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Novel yang sangat bagus yang bercerita tentang dendam seorang putra mahkota kerajaan Sunda, Anggalarang (Wastukancana), terhadap Mahapatih kerajaan Majapahit, yaitu Gajah Mada.

Novel ini bercerita tentang perjalanan Anggalarang yang menjelajah daerah Jawa untuk menemui Gajah Mada musuh besarnya. Dalan perjalanannya dia bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan puluhan prajurit kerajaan Sunda yang tewas akibat kelicikan Gajah Mada. Dia juga berkali-kali bertemu dengan wanita yang mampu membuatnya jatuh hati. Dan yang paling mengharukan saat dia menemukan Gajah Mada yang ternyata sudah tak sehebat 7 tahun yang lalu saat membantai habis seluruh pasukan Sunda dalam perang Bubat yang membuat Anggalarang kehilangan Ayahnya, Raja Linggabuana serta kakaknya, Dyah Pitaloka.

Hampir setiap pengalaman dari perjalanan Anggalarang menebalkan dendam dan kebenciannya pada Gajah Mada namun saat bertemu dengan Gajah Mada, dia akhirnya memilih untuk memaafkan segala perbuatan Gajah Mada yang telah mengukir dendam dihatinya dan dihati rakyat kerajaan Sunda. Bahkan mungkin karena kebaikan hatinya, Anggalarang mampu hidup dan memerintah kerajaan Sunda selama ratusan tahun dan ikut menyaksikan bagaimana kerajaan besar Majapahit hancur karena perebutan tahta. Nice story…

Kira-kira begitulah inti cerita dari novel tersebut. Tapi disini aku takkan mengupas tuntasĀ  novel tersebut. Melainkan mencoba merangkai kembali ingatanku pada kisah nyata mengenai Gajah Mada yang ternyata Tak sehebat dan tak Segagah yang selama ini kudapati dalam buku-buku pelajaran sejarahku. Setidaknya setelah aku membaca novel sejarah ini.

Selain buku-buku pelajaran sejarah yang selalu menyebut-nyebut nama Gajah Mada yang tak lepas dari Majapahit, kerajaan besar bangsa ini, Aku juga pernah membaca novel dengan judul Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi, yang menggambarkan bagaimana hebatnya seorang Gajah Mada yang menjadi pasukan Bhayangkara, pasukan lapis terakhir yang melindungi keluarga kerajaan Majapahit. Dua novel dengan perspektif yang berbeda!

Kedua Novel diatas mengingatkanku kembali pada masa aku kuliah dulu di jurusan pendidikan sejarah Unimed. Saat seorang dosenku bertanya apakah Gajah Mada sehebat namanya?

Ini yang membuatku kembali menyadari betapa sejarah bangsa ini begitu ditentukan oleh penguasanya. Betapa sejarah bangsa ini telah dipelintir sedemikian rupa untuk menyenangkan warganya. Betapa bangsa Ini mencoba menghilangkan luka dengan melupakan fakta sejarah masa lampau yang tragis.

Banyak buku sejarah baik itu buku pelajaran atau buku sejarah murni yang mencatat kehebatan Gajah Mada dengan sumpah Palapanya yang ingin menyatukan nusantara. Konsep inilah yang didengung-dengungkan penguasa negeri ini untuk menggalang persatuan bangsa ini. Namun mereka melupakan sebuah fakta bahwa Gajah Mada juga adalah seorang manusia yang punya kesalahan. Bahkan kesalahan Gajah Mada cukup fatal yang pada akhirnya memecah belah dua kerajaan yang berdiri ditanah yang sama.

Bukannya aku ingin melawan arus dan menentang sejarah yang mengakar erat dalam nadi kita bangsa Indonesia. Tapi aku hanya ingin menyeimbangkan fakta sejarah yang ada. Ada kesamaan persfektif antara aku dan juga novel Hermawan Aksan.

BENARKAH GAJAH MADA SEHEBAT KISAHNYA DIBUKU-BUKU?

Aku rasa nama besar Gajah Mada begitu akrab ditelinga kita, bangsa Indonesia. Penghargaan besar terhadap beliau direalisasikan dengan menggunakan namanya sebagai nama Jalan, Sekolah, bahkan Universitas.

Lalu apa yang kalian ketahui tentang Gajah Mada selain dia merupakan Mahapatih kerajaan Majahpahit yang terkenal dengan sumpah Palapanya?????

Adahkah???

Biar aku menceritakan sedikit yang aku tau…..

Nama Gajah Mada memang tercatat dalam sejarah kuno bangsa ini. Bahkan kehebatan Gajah Mada yang membawa Majapahit mampu menaklukkan daerah-daerah diluar Nusantara. Namun yang menjadi pertanyaan besar dibenakku adalah mengapa Majapahit yang digambarkan sebagai sebuah kerajaan besar itu tak mampu menaklukan sebuah kerajaan kecil yang ada didekatnya? Disinilah kehebatan Gajah Mada ku pertanyakan.

Adalah kerajaan sunda atau pajajaran yang merupakan kerajaan kecil yang tak mampu ditaklukkan oleh Majapahit. Dua kali Majapahit menyerang kerajaan ini namun selalu gagal. Berdasarkan kidung Sundayana, Gajah Mada kemudian berusaha menundukkan kerajaan tersebut melalui cara diplomatis. Gajah Mada menjodohkan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan putri kerajaan Sunda, Dyah pitaloka yang terkenal karena kecantikannya. Pada tahun 1537M Hayam Wuruk meminang putri raja Sunda, Linggabuana untuk dijadikan permaisurinya. Lamaran itu diterima oleh raja Linggabuana dengan harapan perkawinan politik ini akan mampu menjaga kedamaian antar kedua kerajaan. Bahkan raja Linggabuana sendiri yang mengantarkan putrinya ke Majapahit.

Sesampainya di Majapahit, tepatnya disebuah daerah yang bernama Bubat rombongan raja berkemah di lapangan Bubat menanti jemputan raja Hayam wuruk. Pada awalnya Hayam Wuruk hendak menjemput calon istrinya. Namun Gajah Mada meminta agar dirinyalah yang menjemput Dyah pitaloka.

Namun apa yang terjadi?

Ternyata rencana perkawinan antar kerajaan itu merupakan rencana licik Gajah Mada agar dapat menaklukkan kerajaan Sunda. Gajah Mada meminta Raja Linggabuana untuk menyerahkan langsung Dyah pitaloka kepada Hayam Wuruk sebagai upeti tanda takluknya kerajaan sunda/Pajajaran kepada Majapahit.

Permintaan itu jelas ditolak oleh Raja Pajajaran sehingga terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Ratusan pasukan Majapahit membunuh puluhan pasukan Pajajaran di tanah Majapahit sendiri. Pada saat itu Semua pasukan Pajajaran tewas termasuk Raja Linggabuana, demi mempertahankan kehormatan kerajaannya. Bahkan putri Dyah Pitaloka lebih rela untuk mengakhiri nyawanya sendiri dengan menusukkan tusuk kondenya tepat ke jantungnya daripada dijadikan upeti tanda takluk kepada Majapahit.

Peristiwa itu terkenal dengan peristiwa Bubat yang ceritanya tak sampai satu paragraf di buku-buku sejarah nasional.

Peristiwa Bubat itulah catatan hitam ambisi Gajah Mada yang ingin menaklukkan Nusantara. Lalu mengapa Gajah Mada, seorang MahaPatih yang mendunia, berbuat selicik itu. Bahkan akibat dari perbuatannya Hayam Wuruk sempat mendendam kepadanya dan menjadkannya buronan sebelum akhirnya memafaatkannya.

Mungkin tak penting lagi mengkritik salah satu Pahlawan yang dipuja-puja oleh seluruh rakyat indonesia. Akan tetapi, akan menjadi penting bila masyarakat juga mengetahui kalau Indonesia pernah memiliki seorang raja dan seorang Putri yang rela mati demi kehormatan bangsanya. Agar semangat pasukan sunda tak hanya menjadi semangat yang hilang ditelan waktu dan dikikis zaman. Tetapi dapat mengakar pula dalam nadi-nadi kita. semangat yang saat ini sepertinya dibutuhkan sekali oleh bangsa ini.

Dan, tak bermaksud menodai nama besar Gajah Mada yang juga ku kagumi, namun inilah sekilas fakta yang mungkin dikemudian hari bisa membongkar semua hal dibalik peristiwa perang Bubat. Mungkin ada hikmah yang lebih besar yang dapat kita ambil.

InsyaALLAH..

Salam JASMERAH!!!!!
kembali ke atas